Mendapatkan Data Cell Site/Cell Tower untuk Lokasi Pengguna

Pasal 41 UU Undang-undang Nomor 36 Tahun 1999 tentang Telekomunikasi mengatur kewajiban perekaman data atas pengguna jasa telekomunikasi yang terdiri atas 2 (dua) jenis perekaman yaitu:

  1. Perekaman Pemakaian Fasilitas Telekomunikasi yaitu perekaman yang dilakukan penyelenggara jasa telekomunikasi yang bersifat wajib (mandatory) untuk keperluan pengguna jasa telekomunikasi itu sendiri, seperti perekaman rincian data tagihan (billing) dan lain-lain.
  2. Perekaman Informasi yaitu perekaman informasi tertentu yang diatur sesuai peraturan perundang-undangan, seperti rekaman percakapan antarpihak yang bertelekomunikasi.

Selanjutnya catatan/rekaman berupa rincian jasa pemakaian tersebut wajib disimpan oleh operator seluler sekurang-kurangnya 3 (bulan) sesuai dengan ketentuan Pasal 17 ayat 1 PP 52/2000.  Sesuai dengan ketentuan tersebut, catatan/rekaman terdiri atas:

  1. Data Pemakaian; data yang berisi rincian panggilan keluar (outgoing) pengguna jasa selama pemakaian jasa telekomunikasi.
  2. Data Rekaman; data yang berisi rincian panggilan masuk (incoming) pengguna jasa dan rekaman rincian pemakaian berupa rekaman pembicaraan dan rekaman teks pesan masuk dan keluar pengguna jasa.

Data pemakaian yang ada dalam sistem milik provider lebih dikenal sebagai Call Detail Record (CDR).  Data tersebut bersifat rahasia sesuai ayat 1 pasal 42 UU Telekomunikasi yang menyebutkan bahwa penyelenggara jasa telekomunikasi wajib merahasiakan informasi yang dikirim dan atau diterima oleh pelanggan jasa telekomunikasi melalui jaringan telekomunikasi dan atau jasa telekomunikasi yang diselenggarakannya. Pelanggaran terhadap ketentuan tersebut diatur pada pasal 57 dengan ancaman pidana penjara paling lama 2 (dua) tahun dan atau denda paling banyak Rp 200.000.000 (dua ratus juga rupiah).

Pengecualian kerahasiaan informasi milik pengguna jasa telekomunikasi diatur pada ayat 2 pasal 42 yaitu untuk keperluan proses peradilan pidana dengan ketentuan sebagai berikut:

  1. permintaan tertulis Jaksa Agung dan atau Kepala Kepolisian Republik Indonesia untuk tindak pidana tertentu;
  2. permintaan penyidik untuk tindak pidana tertentu sesuai dengan Undang-undang yang berlaku.

Aturan lebih rinci dari ketentuan tersebut di atas terdapat pada Peraturan Pemerintah Nomor 52 Tahun 2000 yaitu pada Pasal 87, Pasal 88 dan Pasal 89 dengan simpulan sebagai berikut:

  • Ada permintaan tertulis dari Jaksa Agung dan/atau Kapolri;
  • Permintaan tertulis tersebut ditembuskan kepada Menteri Komunikasi dan Informatika;
  • Rekaman harus merinci obyek yang direkam, masa rekaman, dan waktu laporan;
  • Hasil rekaman disampaikan secara tertulis kepada Jaksa Agung dan/atau Kapolri atau penyidik secara rahasia.

Belum ada format baku untuk pengajuan surat kepada provider terkait kebutuhan CDR terutama terkait data lokasi.  Namun, para pembaca bisa menggunakan template sebagai berikut:

To Custodian of Records (provider),

This is not a request for call detail records, but for the locations of cell towers only. Provide the following information regarding cell tower locations for the following areas containing cell towers actively in service between August 1, 2014 and August 31, 2014. For a 15 mile radius of downtown Atlanta, Georgia.

Include the below cell tower information:

  • LAC or NEID/ REPOLL/ SWITCH;
  • LAC/ NEID/ REPOLL/ SWITCH NAME or ID;
  • Tower number;
  • Sector number;
  • Latitude;
  • Longitude;
  • Sector azimuth;
  • Horizontal beam width if known.

Records to be provided on CD or via email in Microsoft Excel format or as comma delimited text files (. txt) as well as paper or printed format for certification purposes.

Please send the email response to this attorney at: youremail@ someemailaddress.com.

 

Call Detail Records (CDR) dan Fungsinya Dalam Penentuan Lokasi User

Call Detail Records (CDR) yang tersimpan dalam sistem milik provider telekomunikasi sebetulnya memiliki fungsi finansial dan bisnis yang sangat berguna bagi perusahaan telekomunikasi (baca: provider) disamping fungsi teknis.  Fungsi utama tentunya adalah fungsi billing yaitu sebagai bukti bagi para pelanggan mengenai detil tagihan dari seluruh jasa baik suara (voice call), message (SMS) dan data.  Fungsi kedua adalah untuk keperluan akuntansi keuangan (Financial Accounting) yaitu keperluan analisis keuangan dan juga analisis beban jaringan untuk keperluan penentuan Cell Site (BTS) yang baru di masa mendatang.  Catatan CDR juga dapat digunakan untuk penghitungan roaming antar provider.  Fungsi lainnya adalah fungsi teknikal misalnya beban penggunaan di masing-masing Cell Site, channel yang digunakan dan lain sebagainya yang berguna bagi teknisi.

Data apa saja yang tersimpan dalam CDR?

Satu hal yang harus diingat adalah masing-masing provider memiliki kebijakan yang berbeda terkait jenis dan jumlah data (masa retensi) data dalam CDR.  Secara umum data yang tersimpan adalah IMEI yaitu identifikasi dari handset (mobile phone), IMSI yaitu identifikasi dari akun pelanggan (bukan nomor handphone), tanggal dan waktu dari penggunaan, data transmission dan SMS. Data berupa lama penggunaan voice call, transaksi dengan jaringan juga akan tercatat.  Selain itu terdapat data berupa fitur yang digunakan seperti voice mail, 3-way calling, call forwarding dan lain-lain.  Dalam CDR juga terdapat data berupa switch NEID (network equipment identifier) atau disebut juga LAC (location area code) yang diiringi dengan identifikasi dari Cell Tower yang digunakan oleh pengguna.

Untuk teknologi GSM, pada umumnya data yang tersimpan tampak seperti dalam gambar di bawah ini dan sekali lagi patut diingat bahwa tiap provider memiliki kebijakan yang berbeda.

Secara umum, CDR dalam jaringan GSM akan berisi identifikasi Switch (MSC), latitude dan longitude dari Cell Tower, terkadang azimuth atau arah dari radio set (sector) dari antenna Cell Site juga tersimpan.  Dalam gambar tersebut (dari provider AT&T) terlihat data starting Cell Site dan juga Cell Site yang digunakan oleh pelanggan.  Perlu diketahui bahwa Cell Site pertama dalam CDR adalah cell site yang dipilih oleh handset pada saat idle mode.  Pada saat handpone terhubung dengan satu Cell Site untuk penggunaan voice call, maka jaringan yang akan menentukan cell site mana yang akan digunakan.  Oleh karena itu, data cell site yang tersaji dalam CDR bukan berarti bahwa Cell site digunakan oleh pengguna untuk kemudian dijadikan dasar dalam penentuan lokasi.

Referensi: Cell Phone Location Evidence for Legal Professionals (Larry Daniel)

 

 

Sejarah dan Perkembangan Teknologi Telekomunikasi Seluler

Sejarah Teknologi Telokumunikasi Seluler di Dunia 

Secara ringkas, perkembangan teknologi telepon seluler di dunia dapat dijabarkan sebagai berikut:

  • 1947: adanya riset untuk penggunaan telepon di kendaraan;
  • 1973: pada tanggal 3 April 1973, pegawai dari Motorola yaitu Dr Martin Cooper menelpon Dr Joel Engel yaitu pegawai dari perusahaan pesaing AT&T Bell Lab pada saat sedang berjalan di kota New York dengan menggunakan prototipe Motorola DynaTAC di depan para reporter;
  • 1977: AT&T Bells mengeluarkan protipe
  • 1978 – 2000: warga kota Chicago berpartisipasi dalam proyek percobaan
  • 1979: Penggunaan sistem mobile phone secara komersial dimulai pertama kalinya di dunia;
  • 1990/1991: Pengenalan sistem jaringan 2G
  • 1991: SMS pertamakalinya dikirim didunia
  • 1993: SMS antar penguna
  • 2001: NTT DoCoMo di Jepang untuk pertamakalinya melakukan percobaan sistem jaringan 3G pada bulan Mei 2001
  • 2009: untuk mengatasi keterbatasan 3G untuk pertumbuhan penggunaan aplikasi yang membutuhkan bandwidth, maka industri telekomunikasi mengembangkan sistem 4G. WiMAX yang tersedia di Amerika Serikat oleh Sprint dan LTE yang tersedia di Skandinavia oleh TeliaSorena merupakan dua teknologi 4G yang pertama kali digunakan untuk komersial.

Perkembangan Industri Telekomunikasi Seluler di Indonesia

Teknologi seluler pertama kali berkembang pada tahun 1984 dengan menggunakan teknologi Nordic Mobile Telephone (NMT).  Penggunaan telepon seluler mulai digunakan di masyarakat sejak tahun 1985 hingga 1992 dengan menggunakan teknologi NMT-470 dan NMT-450.  Teknologi GSM di Indonesia pertama kali dikembangkan oleh PT Telkom walaupun operator seluler GSM pertama yang ditunjuk adalah PT Satelindo pada tahun 1994.  PT Telkomsel merupakan operator GSM secara nasional yang pertama dengan produk kartu Halo yang sangat berhasil di beberapa kota besar.

Pada tahun 1996,  PT Excelcomindo secara resmi ditunjuk sebagai operator GSM dimana pada tahun 1998 perusahaan tersebut mengeluarkan kartu prabayar Pro-XL.  Layanan SMS mulai diperkenalkan pada tahun 2000 dan pada tahun yang sama PT Indosat dan PT Telkom mendapat lisensi sebagai operator GSM 1800 secara nasional.  Perkembangan teknologi CDMA di Indonesia diawali oleh Telkom Flexi pada tahun 2003 untuk kemudian disusul oleh Esia dari Bakrie Telecom, Fren & Hepi dari Mobile8, Star One dari Indosat, Smart dari Lippo Telecom dan Ceria dari Sampoerna Telecom. (http://tekno.kompas.com/read/2010/04/01/18352875/Menelusuri.Perkembangan.Ponsel.di.Indonesia).

Asosiasi Telekomunikasi Seluler Indonesia (ATSI)

Awal mula pembentukan ATSI, 15 Juli 1996, dikhususkan sebagai wadah bagi beberapa penyelenggara jaringan bergerak seluler. Seiring waktu berjalan, asosiasi ini diperluas cakupan keanggotaannya bagi seluruh penyelenggara telekomunikasi. Dengan demikian ATSI memiliki fungsi baru yaitu sebagai wahana koordinasi, komunikasi, pembinaan, representasi, konsultasi, fasilitasi, dan advokasi penyelenggara telekomunikasi di Indonesia.

Berikut daftar perusahaan yang tergabung dalam ATSI: