Integrity vs Authenticity

Seorang kawan yang berlatar belakang Information Security pernah men-challenge saya terkait perbedaan integrity dan authenticity terkait perolehan data digital.  Pembahasan mengenai kedua masalah ini timbul setelah melihat acara di TV yang menyiarkan persidangan kasus Jessica.  Pada waktu itu, pengadilan sedang melakukan permintaan keterangan dari ahli digital forensics.  Saya mengatakan bahwa terkait data digital/data elektronik yang disajikan di depan pengadilan harus memperhatikan otentifikasi berupa hash value seperti MD5 ataupun SHA1.  Sedangkan kawan saya mengatakan bahwa hash value itu terkait data integrity.

Sebetulnya pada saat itu kita membicarakan hal yang kurang lebih sama, akan tetapi jika kita berbicara Digital Forensics yang sangat terkait dengan aspek legal, tentunya kita harus bisa menjelaskan ada tidaknya perbedaan diantara kedua istilah tersebut. Dan jika ada perbedaan, dimanakah letak perbedaannya.  Saya mendapatkan jawaban yang cukup efektif dan ringkas pada URL berikut ini: https://en.wikipedia.org/wiki/Digital_forensics.  Di tautan tersebut dijelaskan sebagai berikut:

… Laws dealing with digital evidence are concerned with two issues: integrity and authenticity. Integrity is ensuring that the act of seizing and acquiring digital media does not modify the evidence (either the original or the copy). Authenticity refers to the ability to confirm the integrity of information; for example that the imaged media matches the original evidence.

Jadi jika kita melihat penjelasan tersebut di atas, kita bisa simpulkan bahwa penggunaan hash value tersebut terkait pemenuhan authenticity. Yaitu bagaimana digital forensics examiner bisa membuktikan integritas data digital yang telah diperoleh.  Dengan kata lain, hash value data yang diperoleh tidak berubah sejak diperoleh sampai dengan disajikan ke depan pengadilan.

Tinjauan Umum Knock-Off Mobile Phone

Perkembangan Knock-Off Mobile Phone

Knock-off smartphone merupakan istilah yang digunakan untuk handset yang diproduksi di China, Peru, Mexico dan Taiwan yang merupakan produk imitasi dari salah satu merek smartphone.  Misalnya “Nokla” sebagai produk imitasi dari “Nokia”, lalu “LC” yang mengimitasi “LG”.  Selain itu terdapat SCI-Phone, iOrange dan GooPhone yang merupakan knock-off dari produk iOS serta Ophone OS yang merupakan produk knock-off untuk Android.

Examiner tidak bisa mengabaikan keberadaan knock-off smartphone yang ada di pasaran.  Saat ini diperkirakan 30% dari total smartphone secara global terdiri atas knock-off.  Tahun lalu bahkan terdapat 800 juta knock-off smartphone diproduksi secara global.  Sehingga hanya masalah waktu seorang examiner akan mendapatkan knock-off smartphone untuk diproses.

Umumnya, perangkat knock-off menggunakan chip MediaTek (MTK), Spreadtrum, Infineo atau Mstar.  Chipset MTK dan Spreadtrum paling banyak digunakan oleh knock-off smartphone dan banyak mobile phone forensic tool dan mendukung kedua jenis chipset tersebut.  Infineo termasuk jarang ditemukan, sedangkan Mstar lebih banyak digunakan untuk knock-off BlackBerry.  Saat ini, tidak ada forensic tools yang mendukung handset dengan chipset Mstar, sehingga satu-satunya cara untuk mengekstrak data adalah JTAG atau Chip-Off.

Ciri khas Knock-Off Phone

Beberapa knock-off phone tidak mudah untuk dideteksi (dibedakan dengan aslinya).  Sebagai contoh, GooPhone akan tampak persis seperti iPhone 5. Sehingga konsumen dapat terkecoh dan menyangka bahwa mereka telah membeli smartphone yang asli.

Figur 11- 1: Knock-Off Phone

Beberapa ciri khas dari keberadaan knock-off phone:

  1. Penamaan (merek) yang salah. Misalnya ‘Nokla” hingga sekilas tampak seperti “Nokia”;
  2. Kabel yang digunakan tidak tepat. Misalnya SCI-Phone yang tampak seperti iPhone 3GS menggunakan miniUSB dan bukan kabel standar untuk iPhone;
  3. Handset tersebut mungkin membutuhkan stylus dan atau antenna;
  4. Handset menggunakan dua slot atau lebih SIM card;
  5. Material yand digunakan kelihatan tidak berkualitas, berat terlalu ringan.

Website http://www.spotafakephone.com/ merupakan salah satu referensi yang dapat digunakan untuk membahas keberadaan knock-off phone.