Internet: Risiko Bagi Anak-Anak

Survey Pengguna Internet di Indonesia

Teknologi informasi dan komunikasi (TIK) seperti halnya penemuan-penemuan manusia lainnya memiliki sisi gelap (baca: risiko) di dalamnya disamping manfaat dan kemajuan bagi peradaban manusia.  Sebagai orang tua yang memiliki anak-anak yang sedang tumbuh di jaman yang sarat dengan kemajuan TIK seperti sekarang ini, tentunya kita harus memahami seluruh manfaat termasuk risiko yang dihadapi terutama bagi anak-anak kita yang memang saat ini sangat terbuka dengan informasi yang terdapat dalam internet.

Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) telah melakukan survey terhadap pengguna internet di Indonesia selama kurun waktu dua tahun terakhir.  Hasil surveynya cukup mencengangkan: pengguna internet dengan rentang usia 10-14 tahun sejumlah 768 ribu orang yang artinya nyaris 100% anak-anak di Indonesia dengan rentang usia tersebut merupakan pengguna internet.  Dua hal  lain yang menarik dari survey adalah 47,6 % akses internet dilakukan melalui perangkat mobile (smartphone) dan informasi yang paling banyak diakses oleh pengguna internet di Indonesia berupa Facebook dan Youtube.  Dengan kata lain, dapat ditarik kesimpulan bahwa anak-anak kita mengakses Facebook dan Youtube sebagian besar dilakukan melalui smartphone mereka.  Satu hal yang menarik mengingat perangkat smartphone sangat lah mobile, sehingga anak-anak bisa mengakses internet dimana saja dan kapan saja sepanjang masih ada koneksi jaringan.

Risiko

Sebetulnya tidak ada satupun dari pengguna internet yang akan terbebas dari risiko yang dapat timbul dari komunikasi dan transaksi online di internet-termasuk individu yang sudah dewasa.  Terlebih anak-anak yang memang masih terbatas secara pengetahuan dan wawasannya, sehingga relatif mereka lebih rentan terhadap risiko yang ada dari penggunaan internet.  Beberapa risiko yang ada sebagai berikut:

  1. Kontak individu yang berisiko: yaitu seseorang atau sekelompok orang yang dapat mengancam keamanan dari pengguna internet (mengekspoitasi, mem-bully dan sebagainya);
  2. Perilaku yang kurang pantas: anak-anak relatif mudah terpengaruh dan meniru perilaku yang kurang pantas dari individu pengguna internet lainnya. Untuk itu Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) telah melakukan tindakan yang tepat untuk menegur beberapa orang yang berperilaku kurang pantas di akun Instagram mereka. Di beberapa kasus ditemukan adanya anak-anak yang menjadi cyberbullying  atas teman sekolahnya, karena meniru teman sekolah lainnya yang selama ini dikenal sebagai cyber-bully;
  3. Konten yang kurang pantas: anak-anak kita memiliki risiko berupa akses atau menjadi objek secara seksual, lalu hal-hal yang berbau Suku, Agama dan Ras (SARA), kekerasan, perilaku atau pandangan yang bersifat ekstrem terkait agama, keyakinan dan politik. Konten-konten ini bisa secara tidak sengaja diakses oleh anak-anak kita, atau dari kawan-kawan sekolah atau kontak mereka di Facebook;
  4. Komersialisasi: menjadi target dari iklan yang agresif. Terdapat beberapa kasus dimana anak-anak membeli game, lagu, aplikasi tanpa sepengetahuan orang tua mereka.
  5. Memperoleh kredensial milik orang tua: terutama user id dan password serta informasi kartu kredit. Risiko nya tidak saja anak-anak dapat melakukan belanja online tanpa sepengetahuan orang tua, tetapi juga memberikan informasi tersebut ke pihak lain;
  6. (Tanpa sengaja) menginstall malicious software (malware): para cyber criminal umumnya menggunakan teknik social engineering dengan mengelabui atau merayu pengguna internet sehingga mereka tidak mengetahui bahwa file yang mereka unduh dan jalankan adalah malware yaitu software jahat. Salah satu bentuk malware adalah spyware yang dapat memata-matai dan mencuri data milik penggunanya;

Mengetahui risiko merupakan langkah awal yang perlu diketahui oleh setiap orang tua.  Dengan mengetahuinya, kita dapat melakukan langkah-langkah preventif yang bertujuan mengurangi risiko tersebut.  Berikut ini terdapat saran-saran untuk melindungi anak-anak berdasarkan rentang usia anak-anak kita: anak-anak dibawah usia 5 tahun (https://www.getsafeonline.org/safeguarding-children/under-5/),  antara 6-9 tahun (https://www.getsafeonline.org/safeguarding-children/6-to-9/), antara 10-12 tahun (https://www.getsafeonline.org/safeguarding-children/10-to-12/) dan lebih dari 13 tahun (https://www.getsafeonline.org/safeguarding-children/13-or-over/).

 

PluginPhantom: Trojan Baru Di Android Yang Memanfaatkan Framework DroidPlugin

 

Tim Peneliti Malware di Palo Alto Networks berhasil mendeteksi trojan jenis baru di android yang diberi nama PluginPhantom. Alasan dari penamaan ini karena kemampuan dari Trojan tersebut yang berhasil memanfaatkan FrameWork DroidPlugin untuk menjalankan aplikasi berbahaya. FrameWork DroidPlugin sendiri adalah sebuah framework open-source yang bisa menjalankan aplikasi lain secara virtual diatas aplikasi utamanya, aplikasi virtual ini kemudian dinamakan plugin. Kemampuan utama dari DroidPlugin ini adalah tidak dibutuhkannya instalasi dari aplikasi virtual atau plugin yang akan dijalankan.

PluginPhantom kemudian memanfaatkan kemampuan plugin dari DroidPlugin ini untuk menghindari deteksi dari program antivirus dan program keamanan lainnya. PluginPhantom menjalankan berbagai aplikasi berbahaya secara virtual sebagai plugin tanpa harus menginstallnya satu persatu. Masing-masing aplikasi berbahaya tersebut dikendalikan oleh satu aplikasi utama yakni aplikasi PluginPhantom itu sendiri. Kemampuan ini memberikan keleluasaan bagi PluginPhantom untuk melakukakn update terhadap aplikasi berbahaya yang sedang berjalan tanpa perlu melakukan install ulang.

Infeksi dari Trojan ini dimulai ketika pengguna baik secara sengaja atau tidak menginstall aplikasi yang telah terinfeksi PluginPhantom. Aplikasi utama ini kemudian disebut host yang akan menjalankan berbagai plugin berbahaya yang sebelumnya telah berada pada resource aplikasi host tersebut. Setiap plugin yang dijalankan memiliki fungsinya masing-masing yang berbeda satu sama lain

sumber gambar: http://researchcenter.paloaltonetworks.com
sumber gambar: http://researchcenter.paloaltonetworks.com

Tim dari Palo Alto Networks berhasil mendeteksi 9 plugin berbahaya yang dijalankan oleh aplikasi host ini. Dari 9 plugin tersebut terdapat 3 plugin yang berfungsi sebagai inti yakni plugin task, update dan online. Sementara 6 plugin sisanya akan menjalankan tugas berbahaya sesuai namannya yakni plugin file, location, contact, camera, radio, dan wifi.

Aplikasi host mempunyai kontrol secara penuh terhadap semua plugin tersebut termasuk memberikan perintah atau command. Pada kondisi awal ketika aplikasi host ini berjalan dia akan langsung menjalankan kesembilan plugin berbahaya tersebut

Plugin online bertugas untuk terhubung dengan server Command and Control (C2 atau CnC) untuk kemudian mengupload informasi terkait perangkat yang telah berhasil diinfeksinya. Di fase awal plugin ini akan melakukan inisiasi terhadap server C2 melalui protokol UDP untuk memastikan jika server masih tersedia. Selanjutnya plugin ini akan menerima command dari server C2 melalui WebSocket

Plugin Task berfungsi sebagai jembatan antara aplikasi host dan plugin yang lain. Tergantung dari command yang diberikan oleh host, plugin task akan meneruskan command tersebut ke plugin yang sesuai dengan command tersebut untuk melakukan aktifitas berbahaya. Selain itu plugin task juga bertugas untuk mengupload semua data yang berhasil dicuri dari perangkat android yang telah diinfeksi dan dikirimkan melalui WebSocket ke server C2. Plugin task juga bisa melakukan update terhadap semua plugin yang lain termasuk dirinya sendiri jika mendapatkan command update dari aplikasi host sebelumnya. Setelah update diterima, plugin task akan meminta aplikasi host untuk melakukan reload terhadap semua plugin tanpa perlu melakukan install ulang.

Tujuan utama dari Trojan ini adalah melakukan pencurian data dan informasi dari perangkat yang berhasil diinfeksinya. Melalui 6 pluginnya yang lain, aplikasi host dapat memberikan command yang spesifik untuk mencuri berbagai informasi.

  • Plugin File dipakai untuk melakukan pencurian berbagai file yang berada pada perangkat
  • Plugin Location digunakan untuk mendapatkan informasi lokasi dari perangkat
  • Plugin Contact dipakai untuk mencuri data SMS, riwayat telepon, informasi kontak, dan melakukan penyadapan terhadap telepon masuk dari nomor tertentu
  • Plugin Camera dipakai untuk mengambil foto baik dari kamera depan maupun belakang termasuk juga mengambil skrinsut dari tampilan layar. Untuk menghindari kecurigaan korban, plugin ini menggunakan frame yang sangat kecil untuk preview fotonya saat melakukan pengambilan foto melalui kamera
  • Plugin Radio melakukan perekaman suara secara diam-diam baik untuk telepon masuk atau suara lain tergantung dari command yang diberikan dari server
  • Plugin WIFI dipakai untuk mencuri informasi seputar WIFI seperti SSID, password, IP Address, dan MAC Address. Plugin ini juga dipakai untuk melihat berbagai proses yang sedang berjalan pada perangkat dan mengambil informasi riwayat peramban atau browser.

Selain melalui berbagai plugin diatas, aplikasi host juga memiliki kemampuan lain sebagai keylogger. Kemampuan ini memungkinkan aplikasi host dapat merekam semua ketikan yang dimasukkan oleh korban dan mengirimkannya ke server. Meskipun begitu, teknik ini masih belum bisa merekam dan mengambil inputan berupa password menurut Tim Peneliti di Palo Alto Networks.

Melihat kemampuan yang dimiliki oleh Trojan ini yang berhasil memanfaatkan kemampuan plugin untuk menghindari deteksi bukan tidak mungkin jika di masa yang akan datang akan lebih banyak lagi malware lain yang juga akan ikut menggunakan teknik yang sama.

Untuk perlindungan dari serangan malware anda bisa mengikuti tips berikut

Sumber:

https://netsec.id/pluginphantom-trojan-android-manfaatkan-framework-droidplugin/

Breaking News! Buku Seri Pertama Telah Terbit!!

Akhirnya buku seri pertama: Mobile Phone Forensics: Theory telah terbit.  Bekerja sama dengan Penerbit Andi Offset, maka dengan bangga dan bahagia buku yang telah dinanti-nantikan ini telah terbit.  Semoga buku ini mendapat tanggapan yang baik dari masyarakat.  Lalu buku kedua dan ketiga yang sedang dalam tahap penyusunan dapat segera menyusul diterbitkan.

whatsapp-image-2016-11-30-at-19-21-00

8 Sistem Operasi Smartphone Selain Android & iOS

Sudah sejak beberapa tahun terakhir ini, 2 sistem operasi smartphone yaitu Android dan iOS telah menguasai secara mutlak pasaran smartphone secara global.  Menurut IDC, pada bulan Agustus 2016, Android menguasai 87,6% dan iOS sebesar 11,7% dari market share secara global.  Artinya lebih dari 99% market share pasaran smartphone dikuasai oleh sistem operasi Android dan iOS.

Sebagai mobile phone forensic examiner, tentunya kita harus mampu menangani perangkat mobile yang menggunakan 2 sistem operasi tersebut.  Di sisi lain, sebelum kedua sistem operasi tersebut menjadi platform dari sistem operasi smartphone, sebetulnya terdapat sekurang-kurangnya 8 sistem operasi smartphone yang pernah diluncurkan di pasaran.

Sebagian besar dari smartphone tersebut sudah tidak dikembangkan atau dipasarkan lagi.  Hanya PocketPC yang kemudian menjadi Windows Mobile dan BlackBerry yang masih berkembang dan tersedia di pasaran walaupun jumlah masih sangat terbatas.  Mungkin hanya penduduk Indonesia yang sampai saat ini masih menggunakan Blackberry walaupun jumlah sangat jauh menurun dibandingkan pada masa jayanya dahulu.

Berikut ini 8 smartphone tersebut:

  1. PocketPC (Windows Mobile).

windows-mobile

Sebelum muncul di 2003, Windows Mobile dulu dinamai PocketPC. Ditujukan untuk pebisnis, smartphone Windows Mobile pernah cukup populer, terutama sekitar tahun 2007. Namun karena kalah saing dari Android dan iOS, Windows Mobile menjelma jadi Windows Phone di 2010 yang benar-benar berbeda tampilan serta fungsinya.

  1. Samsung Bada.

samsungbada

Mengurangi ketergantungan pada Android, Samsung merilis OS sendiri bernama Bada di tahun 2010. Handset Bada sempat laris manis pada awalnya, seperti model Samsung Wave S8500 yang terjual jutaan unit. Namun tahun 2014, pengembangan Bada resmi dihentikan dan Samsung memilih beralih membuat OS lain bernama Tizen.

  1. Firefox OS.

firefoxos

Sempat digadang-gadang bisa menyaingi Android, Firefox OS ternyata hanya berumur pendek. Ponsel Firefox pertama diperkenalkan di akhir 2014. Namun pada pertengahan tahun ini, Mozilla memastikan pengembangan Firefox OS dihentikan karena beragam alasan, termasuk minat yang rendah.

  1. WebOS.

webos

WebOS pertama kali dikembangkan oleh Palm. Setelah diakuisisi Hewlett Packard, diluncurkanlah ke pasaran smartphone berbasis WebOS seperti Pre dan Pixi pada tahun 2011. Namun penjualannya tak menggembirakan dan HP menghentikan penjualannya sebelum kemudian WebOS dijual pada LG.

  1. Symbian.

symbian

Symbian adalah sistem operasi yang paling jaya pada tahun 2000-an, menjadi senjata utama Nokia bertahkta. Namun mulai tahun 2010-an, Symbian tenggelam karena popularitas Android dan iOS. Nokia 808 yang rilis di 2012 adalah smartphone terakhir berbasis Symbian dari Nokia.

  1. Palm OS.

palmos

Palm OS sempat cukup populer dengan model smartphone seperti Palm Treo 270. Smartphone Palm OS ditujukan untuk para pebisnis. Namun OS ini telah dimatikan sejak tahun 2009.

  1. Maemo/MeeGo.

maemo

Dikembangkan Nokia bersama Intel, MeeGo sempat bikin penasaran. Handset yang memakainya, Nokia N900 yang diperkenalkan tahun 2009 sempat dipuji banyak kalangan dan disukai mereka yang hobi mengoprek. Tapi karena bermacam halangan termasuk tenggelamnya Nokia, MeeGo tinggalah nama.

  1. BlackBerry OS.

blackberryos

Masih banyak sekali memang pengguna handset BlackBerry OS, termasuk yang terbaru BlackBerry 10. Tapi seperti diketahui, Blackberry telah beralih memakai Android sejak tahun lalu dan tidak ada lagi model ponsel baru yang memakai BlackBerry OS. Kejayaannya dulu bisa dikatakan tinggal kenangan.

Referensi:

http://inet.detik.com/readfoto/2016/11/02/143703/3335444/1146/8/pendahulu-android–ios-yang-tenggelam-ditelan-zaman#bigpic2

Hoax SMS

 

 

Screenshot_1                                                                                                Seorang kawan yang tinggal di Perth meng-upload berita terkait Hoax SMS yang diterima oleh sebagian orang di Australia.  Tampaknya SMS ini ditujukan bagi para nasabah bank ANZ.  Sebetulnya teknik Social Engineering dalam bentuk Smishing ini bukan lah satu teknik yang baru.  Intinya sang target diarahkan untuk mengklik link yang dapat berisi semacam daftar isian dimana nasabah harus memasukkan credential seperti userid dan password online banking dan/atau semacam mobile banking Trojan yang nantinya dapat digunakan untuk ‘mencuri’ uang milik nasabah.

Setelah saya cek link yang ada dalam SMS tersebut, tampaknya malicious link tersebut sudah di-suspend oleh pejabat berwenang di Rusia.  Seperti biasa, para cybercrime menempatkan malicious website mereka atau Command and Control server dari malware di Rusia.  Sudah menjadi rahasia umum, jika sebagian besar cybercriminal ada di Rusia, Ukrainia dan China.

Screenshot_2

Indonesia sendiri merupakan target utama dari para cybercriminal, sehingga para pengguna online mobile banking dan juga pengguna smartphone harus berhati-hati ketika menerima SMS, MMS atau email yang meminta untuk meng-klik satu URL/link.  Lebih baik kita menanyakan secara langsung ke bank yang bersangkutan.

Inilah Virus dan Malware Android Yang Paling Berbahaya

ArenaLTE.com – Menurut laporan Cheetah Mobile, ada sekitar 9,5 juta virus dan malware yang beredar dan meyerang Android selama tahun 2015. Dan negara Cina, India juga Indonesia merupakan ketiga negara yang paling banyak menerima serangan virus dan malware Android tersebut. Selain karena ketiga negara tersebut merupakan basis pengguna Android terbanyak, aplikasi pihak ketiga (third party apps) paling banyak tersebar luas di ketiga negara tersebut, dan  kebanyakan malware dan virus masuk melalui aplikasi pihak ketiga yang kita download.

Pada 2015, Virus atau Trojan yang sangat populer yaitu Root Trojan. Jenis Trojan ini dapat memperoleh hak akses system-level para pengguna perangkat Android dan menyembunyikannya pada bagian yang sangat tersembunyi, membuatnya sangat sulit dihapus. Contoh yang paling khas adalah the stubborn Ghost Push dan berbagai variannya.

Pada 2015, Cheetah Mobile juga mendeteksi kehadiran lebih dari 1.300.000 situs berbahaya. Jumlah situs berbahaya meningkat dari bulan sebelumnya, dan mencapai puncaknya pada bulan Desember. Dimana bulan-bulan akhir tahun adalah musim liburan dan belanja, orang-orang bersedia untuk menghabiskan uang yang menjadi sasaran empuk para penjahat online.

Para penyebar virus dan malware ini menggunakan berbagai cara untuk melakukan aksi jahatnya, baik melalui aplikasi pihak ketiga juga melalui website berbahaya. Mesin pencari (Search Engine), Jejaring Sosial hingga SMS digunakan sebagai media untuk menyusupi virus dan malware berbahaya atau mencuri data pribadi kita.

Virus dan Malware Android Paling Sulit Dimusnahkan

Di bulan Oktober 2015, Cheetah Mobile Security Lab memperingatkan para pengguna Android tentang penyebaran virus Ghost Push yang telah menginfeksi levbih dari 900,000 pengguna Android di 116 negara. Virus ini mampu menguasai smartphone dan tablet kita dan sulit dimusnahkan. Virus ini juga akan memasang aplikasi tanpa izin penggunanya demi mendapatkan uang dari pengiklan.

Virus dan Malware Android Paling Jahat

Virus Trojan yang sudah terpasang di perangkat (pre-installed Trojan) – Para peneliti dari Cheetah Mobile Security Lab menemukan Trojan bernama Cloudsota, sudah terpasang di tablet Android tertentu. Lebih dari 50 negara telah terinfeksi oleh virus Trojan ini.

Virus dan Malware Android Paling Menarik

Trojan “Gambar Pesta” (Party Pics Trojan), pengguna Android akan menerima pesan teks dari nomor tak dikenal yang menulis “Coba lihat foto-foto pestamu! Semua temanmu ada disana!” dengan link dibawahnya. Setelah di klik, pengguna tidak akan melihat foto atau gambar, tapi telepon selular mereka akan mendapatkan virus Trojan.

Virus dan Malware Paling Sukar Dideteksi

CM Security Research Lab mengidentifikasi lima aplikasi berbahaya tersedia untuk diunduh di Google Play yang berisi jenis malware yang disebut Hide Icon. Hide Icon ini telah menginfeksi lebih dari 56.000 perangkat pada 2015. Malware ini menyamarkan dirinya sebagai alat yang berguna seperti senter dan kompas, dan mencuri data pribadi pengguna dan kerap kali memaksakan menampilkan iklan layar penuh ke perangkat korban.

Virus dan Malware Paling Menjengkelkan

CM Security Research mendeteksi sebuah ransomware bernama iToper, yang dikirimkan melalui forum-forum ponsel dan market store aplikasi pihak ke tiga. Sekali virus diaktifkan, akan menghentikan aktivitas lainnya yang berjalan pada ponsel, mengunci perangkat, dan kemudian menampilkan peringatan palsu dari FBI yang mencoba untuk memeras uang dari pengguna.

Virus dan Malware Paling Membuat Rugi

Kerentanan terhadap ‘Android Installer Hijacking’ membuat pihak ketiga dapat bisa menyusup kedalam smartphone Android, lalu memasang malware dan mencuri data pribadi kita. Ada sekitar 49,5 persen dari semua smartphone Android, termasuk tablet, memiliki risiko untuk mengalami masalah ini.

Sumber:

http://arenalte.com/berita/industri/inilah-virus-dan-malware-android-yang-paling-berbahaya/

HummingBad: Malware Penghasil Uang dengan Menginfeksi 85 juta Perangkat (Bagian I)

Periset dari Check Point Mobile Threat selama 5 bulan terakhir melakukan investigasi atas satu mobile malware yang kemudian diberi nama “HummingBad.”  Para periset pertama kali menemukan varian malware ini pada bulan Pebruari 2016 dan sampai saat ini diprediksi telah menginfeksi 85 juta perangkat mobile di berbagai negara dengan total 10 juta perangkat telah berhasil dikendalikan oleh Yingmob-perusahaan yang diyakini berada dibelakang pengembangan dan penyebaran malware tersebut.

HummingBad mampu menciptakan rootkit yang bersifat permanen dengan tujuan mendapatkan keuntungan finansial melalui advertorial (iklan) dan juga menginstal aplikasi yang bersifat malicious.  Menurut Check Point, saat ini Yingmob masih menggunakan iklan sebagai sumber utama penghasilan dari HummingBad.  Akan tetapi dengan jutaan atau bahkan puluhan juta perangkat yang telah berhasil di root, maka Yingmob dapat menghasilkan botnet dengan jumlah yang sama.  Tentunya botnet-botnet ini dapat dijual di black market yang kemudian dapat digunakan untuk menyerang organisasi pemerintahan atau bisnis.  Selain itu, data yang disimpan dalam perangkat yang telah terifeksi dapat digunakan oleh Yingmob untuk kepentingan ilegal lainnya.  Pada akhirnya, korban dari HummingBad tidak terbatas pada pengguna handset tetapi juga perusahaan dan lembaga pemerintahan.

Keuntungan Finansial sebagai Tujuan (saat ini)

Check Point melakukan penghitungan keuntungan finansial dari HummingBad dengan penghitungan sebagai berikut:

  • Applikasi terkait HummingBad berhasil menunjukkan advertisement sebanyak 20 juta per hari;
  • Yingmob berhasil mendapatkan click rate sebesar 12,5% atau sebesar 2,5 juta click per hari;
    • Penghasilan dari revenue per click (RPC) adalah USD $0.00125 sehingga total RPC per hari yang diterima oleh Yingmob sebesar $3,000 per hari.
  • HummingBad menginstal lebih dari 50,000 aplikasi malicious per hari;
    • Penghasilan dari instalasi aplikasi malicious adalah $0.15, sehingga total penghasilan yang diterima sebesar $ 7,500 per hari.
  • Sehingga total penghasilan yang diterima oleh Yingmob dari HummingBad minimal sebesar $10,000 per hari atau total $ 300,000 per  bulan.

Yang Pertama Tapi Bukan Yang Terakhir

Yingmob mungkin telah menjadi perusahaan pertama yang berhasil mendapatkan keuntungan finansial dari mobile malware melalui fraudulent advertisement dan juga instalasi applikasi yang malicious.  Namun perusahaan tersebut bukan perusahaan yang terakhir, karena banyak perusahaan lainnya akan mengikuti jejak Yingmob.  Satu hal yang perlu diwaspadai adalah sebaran serangan yang semakin luas dan teknik-teknik yang lebih canggih.

(Bersambung ke Bagian ke-2: Bagaimana HummingBad Bekerja)

Sumber:

From HummingBad to Worse (http://blog.checkpoint.com/2016/07/01/from-hummingbad-to-worse-new-in-depth-details-and-analysis-of-the-hummingbad-andriod-malware-campaign/)